Gerakan Kecil, Makna Besar: KUA Wongsorejo Punya Cara Unik Latih Calon Pengantin
Bacaweb.com — Tebak, apa yang paling sering bikin bosan calon pengantin saat ikut bimbingan pra-nikah? Jawabannya: materi yang itu-itu saja, formal, dan kadang terasa kaku. Tapi, tidak begitu di KUA Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi. Mereka berhasil mengubah proses pembekalan menjadi lebih seru dan mudah diingat dengan sebuah inovasi sederhana tapi jenius: Tepuk Sakina.
Inovasi ini digagas oleh Kepala KUA Wongsorejo, Moh. Hasyim Asy’ari. Ia menyadari, fondasi rumah tangga bahagia tidak cukup hanya diajarkan lewat teori. Ia butuh cara yang bisa langsung “masuk” ke hati dan pikiran calon pengantin. Maka, lahirlah Tepuk Sakina, sebuah gerakan tepukan tangan yang ternyata menyimpan empat rahasia kunci membangun keluarga sakinah (harmonis).
Empat Tepukan, Empat Pilar Sakinah
Gerakannya sangat mudah, namun setiap tepukan memiliki makna yang dalam:
Tepuk Pertama: Sakinah (Ketenangan)
Gerakan awal ini melambangkan fondasi paling penting: menciptakan ketenangan. Tanpa rasa damai dan nyaman, rumah tangga akan sulit berkembang. Tepukan ini ibarat “bismillah” untuk sebuah perjalanan panjang.
Tepuk Kedua: Mawaddah (Cinta)
Tepukan kedua ini adalah pengingat bahwa cinta bukan cuma soal rasa di awal, tapi sesuatu yang harus terus dirawat dan dipupuk. Mawaddah adalah perekat yang akan menguatkan ikatan suami istri, tak peduli tantangan apa pun yang datang.
Tepuk Ketiga: Warahmah (Kasih Sayang)
Rahmah adalah kasih sayang yang tulus, yang tetap ada bahkan saat suka dan duka silih berganti. Gerakan ini mengajarkan bahwa pernikahan adalah tentang saling menguatkan, menjadi bahu untuk bersandar, dan mengasihi tanpa syarat.
Tepuk Keempat: Wal Barokah (Keberkahan)
Puncak dari semua gerakan. Tepukan terakhir ini menegaskan bahwa tujuan utama pernikahan adalah mencari keberkahan dari Allah SWT. Dengan mengaplikasikan tiga pilar sebelumnya, pasangan diharapkan dapat membangun rumah tangga yang tidak hanya bahagia, tapi juga penuh berkah dan kebaikan.
Bimbingan yang Bikin Candu?
Hasyim Asy’ari mengatakan bahwa Tepuk Sakina dirancang untuk memecah kebosanan dan membuat nilai-nilai pernikahan lebih mudah dicerna. “Kami ingin calon pengantin lebih mudah menyerap dan mengaplikasikan nilai-nilai penting ini,” jelasnya.
Responsnya? Luar biasa positif! Salah satu calon pengantin bahkan berkata, “Ternyata belajar tentang pernikahan bisa seasyik ini.”
Inovasi sederhana dari KUA Wongsorejo ini membuktikan bahwa pelayanan publik bisa dikemas dengan cara yang kreatif dan efektif. Semoga Tepuk Sakina tak hanya jadi tren sesaat, tapi benar-benar menjadi panduan praktis bagi ribuan pasangan untuk membangun rumah tangga yang langgeng, bahagia, dan penuh berkah. (*Ad)




