Florist Jaya: Kisah Fajri, Pelaku Usaha Papan Ucapan yang Bertahan di Era Digital

Bacaweb.com, Jambi — Bisnis papan ucapan menghadapi tantangan unik di era digital, tetapi banyak pelaku usaha yang berhasil bertahan dan berkembang. Kuncinya adalah beradaptasi dengan memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan nilai personal yang menjadi daya tarik utama mereka.

Berikut adalah beberapa strategi yang diterapkan oleh bisnis papan ucapan agar tetap relevan:

Pemasaran Digital dan Media Sosial

“Dulu, promosi cuma dari mulut ke mulut,” ujar Fajri, pemilik Florist Jaya. “Sekarang, Instagram dan TikTok jadi etalase utama kami. Kami unggah foto-foto papan ucapan dengan desain kreatif, di balik layar proses pembuatan, hingga video saat papan ucapan itu dipasang. Hasilnya, jangkauan kami jadi lebih luas.”

Desain Kreatif dengan Bahan Tradisional

Meskipun hanya menggunakan papan dan bunga, kreativitas tetap menjadi kunci. Fajri menambahkan, “Kami fokus pada desain huruf yang unik dan kombinasi bunga yang menarik. Papan ucapan kami mungkin cuma pakai bunga sintetis, tapi kami pastikan tata letaknya estetik dan rapi. Bunga yang kami pakai pun beragam corak warnanya. Ini yang membuat produk kami tetap punya ciri khas dan diminati.”

Kolaborasi dan Jaringan

Kolaborasi menjadi kunci untuk memperluas pasar. “Kami aktif bekerja sama dengan Dinas Pemerintahan, Kampus, wedding organizer, event planner, dan vendor lainnya,” kata Fajri. “Selain itu, kami juga mendaftar di marketplace online agar mudah ditemukan oleh calon pelanggan.”

Pelayanan Pelanggan yang Prima

Di era digital, kecepatan dan responsivitas adalah segalanya. “Kami selalu siap merespons pesanan dan pertanyaan melalui WhatsApp atau media sosial,” ujar Fajri. “Kecepatan dalam membalas pesan, pengiriman yang tepat waktu, dan memastikan setiap detail pesanan sesuai harapan pelanggan adalah hal yang membuat mereka kembali lagi. Kami tidak hanya menjual papan, tapi juga ekspresi dan kebahagiaan.”

Secara keseluruhan, bisnis papan ucapan yang sukses di era digital adalah mereka yang memanfaatkan teknologi sebagai alat, bukan pengganti. Mereka tetap mengutamakan kreativitas, pelayanan, dan sentuhan personal yang tidak bisa digantikan oleh mesin, bahkan dengan bahan yang sederhana. (*)