Prabowo–Gibran Genap Setahun, Program Sosial dan Ekonomi Bawa Harapan Baru
BacaWeb.com – Jakarta — Genap satu tahun sejak Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka resmi memimpin Indonesia pada 20 Oktober 2024. Dalam waktu yang terbilang singkat, arah pemerintahan mereka menunjukkan langkah yang cepat, berani, dan berorientasi pada hasil nyata di lapangan.
Sejak awal, Prabowo menegaskan bahwa pembangunan tak hanya tentang infrastruktur, tapi juga tentang membangun karakter bangsa yang percaya diri. Satu tahun berjalan, tekad itu mulai terlihat dari berbagai kebijakan yang langsung menyentuh rakyat kecil.
Kinerja ekonomi menjadi salah satu sorotan. Di tengah ketidakpastian global, Indonesia tetap melaju stabil. Pertumbuhan ekonomi kuartal II-2025 mencapai 5,12 persen, inflasi terjaga di angka 2,65 persen, dan defisit APBN tetap disiplin di bawah 3 persen dari PDB. Angka kemiskinan menurun menjadi 8,47 persen, sementara pengangguran menyentuh titik terendah dalam dua dekade terakhir di angka 4,76 persen.
Langkah cepat pemerintah juga tampak lewat peluncuran paket kebijakan ekonomi nasional “8+4+5” yang memadukan bantuan sosial dengan peningkatan produktivitas. Program ini memperluas bantuan langsung tunai bagi jutaan keluarga, memperbesar kesempatan magang bergaji bagi lulusan baru, serta membuka lapangan kerja lewat proyek padat karya di seluruh Indonesia.
Program sosial menjadi wajah lain pemerintahan Prabowo–Gibran. Salah satunya Makan Bergizi Gratis (MBG), yang sejak Januari 2025 telah menyalurkan lebih dari 1,4 miliar porsi makanan sehat untuk anak sekolah, balita, dan ibu hamil. Program ini tak hanya memperbaiki gizi masyarakat, tapi juga menghidupkan ekonomi lokal lewat rantai pasok dari petani, nelayan, hingga UMKM penyedia bahan pangan.
Pemerintah juga meluncurkan program Sekolah Rakyat yang memperluas akses pendidikan di berbagai daerah, disertai digitalisasi pembelajaran melalui Interactive Flat Panel di ratusan ribu sekolah. Di bidang kesehatan, Cek Kesehatan Gratis telah dirasakan oleh lebih dari 25 juta warga di seluruh Indonesia.
Kebijakan lain yang menunjukkan keberpihakan pada rakyat kecil ialah penguatan Koperasi Merah Putih di 80 ribu desa, penyaluran bonus hari raya bagi pengemudi ojek online, serta penyesuaian upah dan gaji aparat penegak hukum hingga 280 persen.
Dalam sektor pangan, Prabowo mulai mewujudkan cita-cita lama soal kemandirian nasional. Produksi beras 2025 mencapai 33 juta ton, tertinggi dalam sejarah, dengan cadangan Bulog lebih dari 4 juta ton. Stabilitas harga gabah dan meningkatnya kesejahteraan petani menjadi bukti bahwa kebijakan berpihak pada produsen pangan domestik. Bahkan Indonesia kini mampu mengirim bantuan beras ke Palestina—simbol bahwa negeri agraris ini telah cukup untuk dirinya sendiri dan siap berbagi dengan dunia.
Langkah besar juga dilakukan di sektor energi dan industri. Pembentukan superholding Danantara bertujuan menyinergikan aset-aset BUMN agar lebih produktif. Di sisi lain, kerja sama CATL–ANTAM/Indonesia Battery Corporation (IBC) senilai Rp100 triliun menjadi tonggak transisi Indonesia dari eksportir bahan mentah menuju produsen energi hijau kawasan Asia Tenggara.
Di bidang hukum, Prabowo menunjukkan ketegasan memberantas mafia ekonomi dan korupsi. Pemerintah menertibkan jutaan hektare lahan sawit ilegal, menghentikan tambang tanpa izin, serta menyelamatkan potensi kebocoran anggaran bernilai ratusan triliun rupiah. Pesannya jelas: tidak ada yang kebal hukum.
Sementara di panggung global, diplomasi Indonesia semakin diakui. Dari partisipasi TNI dalam parade militer di India dan Prancis, hingga peran aktif Presiden Prabowo dalam KTT Perdamaian Gaza di Mesir yang mendapat pujian langsung dari Presiden AS Donald Trump. Indonesia kini kembali tampil dengan wibawa dan dihormati dunia.
Satu tahun pemerintahan Prabowo–Gibran menandai era baru kepemimpinan nasional—tegas, cepat, dan berpihak pada arus bawah. Visi Indonesia Emas 2045 kini bukan sekadar slogan, tapi langkah yang tengah diwujudkan.
Seperti yang kerap disampaikan Presiden, “Kita tidak boleh takut bermimpi besar. Tapi lebih dari itu, kita harus punya keberanian untuk mewujudkannya.” Dan satu tahun ini, mimpi besar itu mulai menampakkan hasilnya.(*)




