Ramai Polemik Mega Proyek yang Terancam Mangkrak, Rhenald Kasali Bandingkan dengan Infrastruktur Jumbo di China

Bacaweb.com – Sejumlah proyek strategis nasional (PSN) di Indonesia menjadi sorotan lantaran kini terancam mangkrak.

Berdasarkan data yang dihimpun, beberapa proyek besar seperti Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur, MRT Fase II, Kereta Semi Cepat Jakarta–Surabaya, hingga Tol Trans Sumatera tahap II disebut mengalami berbagai hambatan dalam pembangunan di lapangan.

Masalah seperti pembebasan lahan, lemahnya perencanaan, serta kendala pembiayaan disebut menjadi penyebab utama lambatnya penyelesaian proyek.

Selain itu, proyek infrastruktur lain seperti Pelabuhan Ambon, Tol Getaci, Bendungan di Sarolangun Jambi, dan Jalan Akses Ujung Jabung juga mengalami penundaan dan belum menunjukkan tanda-tanda penyelesaian pembangunan.

Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran publik terhadap efektivitas penggunaan anggaran negara, terutama di tengah beban fiskal yang meningkat.

Terlebih, proyek infrastruktur selama ini disebut menjadi tumpuan utama pemerintah dalam mempercepat pemerataan ekonomi dan membuka lapangan kerja baru.

Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa sempat menegaskan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) seharusnya menjadi alat untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, bukan sekadar membiayai proyek fisik.

“Pada dasarnya sama, seluruh APBN, seluruh kegiatan pemerintah, DPR, DPD, tujuannya sama untuk membuat masyarakat kita semua jadi kaya,” ujar Purbaya dalam Rapat Kerja Komite IV DPD RI di Senayan, Jakarta.

APBN Harus Jadi Mesin Kesejahteraan

Purbaya menambahkan, keberhasilan ekonomi tidak bisa hanya diukur dari banyaknya proyek besar atau orang kaya baru, melainkan seberapa besar manfaat yang dirasakan masyarakat luas.

Ia juga menyoroti bahwa mandat Presiden Prabowo menekankan pentingnya ekonomi yang inklusif dan merata.

“Kalau saya sendiri ya sudah kaya, tapi kan sebagian besar masyarakat kita nggak begitu. Itu bukan keberhasilan kalau yang kaya cuma sedikit,” tegasnya.

Menurutnya, infrastruktur tetap penting, namun hasil akhirnya harus mampu mengangkat kesejahteraan rakyat.

Menkeu Purbaya lantas mengajak seluruh elemen pemerintahan dan masyarakat untuk bergotong royong menjaga arah pembangunan nasional.

“Saya selalu bilang, mari kita kaya bersama. Itu tujuan kita,” tandasnya.

Berkaca dari hal itu, praktisi bisnis dan akademisi, Prof. Rhenald Kasali menyoroti proyek-proyek raksasa yang berpotensi mangkrak, salah satunya mega proyek Meikarta yang disebut nilai investasinya mencapai Rp278 triliun.

Rhenald Kasali: Mega Proyek Harus Lihat Jangka Panjang

Dalam unggahan YouTube pribadinya, Rhenald menilai, proyek tersebut mencerminkan lemahnya kesinambungan antar-pemerintahan serta indikasi penyimpangan yang membuat proyek besar berhenti di tengah jalan.

“Bagaimana tuh kabarnya Meikarta? Itu dulu 278 triliun investasinya. Ini Indonesia ingin maju tapi juga membiarkan segala sesuatu mangkrak,” ujarnya dalam siniar YouTube Prof. Rhenald Kasali, pada Senin, 10 November 2025.

“Mangkrak juga karena penerusnya mengabaikan, pendahulunya sangat mengaitkan dengan dirinya,” sambungnya.

Rhenald menegaskan, mega proyek seharusnya tidak hanya untuk kepentingan generasi saat ini, tetapi dirancang untuk masa depan.

Guru Besar Ilmu Manajemen kemudian mencontohkan keberhasilan China dalam membangun infrastruktur besar yang kini menopang pertumbuhan ekonominya.

Belajar dari Geliat Infrastruktur China

Rhenald mengisahkan pengalamannya dua dekade lalu atau 20 tahun silam, saat mengunjungi China.

Ia mengaku telah menyaksikan, negara itu membangun infrastruktur berskala besar meski belum digunakan secara optimal saat itu.

Kini, hasilnya terasa dengan kemajuan pesat ekonomi negeri tirai bambu tersebut.

“Saya masih ingat, 20 tahun yang lalu ketika pergi ke Cina, kita bisa menyaksikan infrastruktur besar saat itu tidak ada di jalanan,” terang Rhenald.

“Sekarang bukan hanya jalanan yang besar, ada jembatan besar, saluran airnya sampai gorong-gorongnya besar sekali. Rupanya, itu dipersiapkan untuk 20 tahun mendatang,” ucapnya.

Rhenald menilai, Indonesia perlu mengambil pelajaran dari visi jangka panjang tersebut.

Menurutnya, infrastruktur yang kini terbengkalai justru bisa menjadi penggerak ekonomi jika dikelola dengan konsisten dan bebas dari kepentingan politik jangka pendek.

“Perlu diingat, di seluruh penjuru Tanah Air banyak sekali bangunan infrastruktur yang kini terancam mangkrak,” terang Rhenald.

“Padahal kalau kita hidupkan itu, ini bisa jadi mesin penggerak ekonomi kita,” tandasnya.***