Tebu Jadi Prioritas Pabrik Bahan Baku Etanol, Bakal Digunakan untuk Penuhi Kebutuhan Gula Nasional

Bacaweb.com – Rencana pemerintah untuk mengembangkan industri bioetanol agar produksi mandiri etanol secara nasional tampaknya makin diseriusi.

Pemerintah melalui Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) saat ini disebut-sebut tengah mencari lahan potensial untuk program energi baru terbarukan itu.

Menteri ATR/BPN, Nusron Wahid, pun telah menyiapkan 240 ribu hektare lahan yang nantinya akan digunakan untuk menanam bahan baku etanol.

Program pabrik etanol ini salah satunya untuk mendukung rencana pengurangan impor bahan bakar minyak (BBM) jenis bensin dengan campuran etanol 10 persen atau E10 pada 2027 nanti.

Lahan untuk Bahan Baku Etanol Tersebar di Sejumlah Wilayah

Lahan yang akan digunakan sebagai pabrik etanol untuk penanaman bahan bakunya terutama singkong dan tebu akan dilakukan di sejumlah daerah.

Area yang kini dimiliki oleh Kementerian ATR/BPN adalah 240 ribu hektare dari target penanaman di 1 juta hektare.

“Mencar-mencar (tersebar) di beberapa provinsi, sementara memang baru sekitar 240 ribu hektare yang available dari target 1 juta hektare,” kata Nusron Wahid kepada awak media di Kementerian Pekerjaan Umum (PU), Jakarta.

Menurut bocoran dari Nusron, lahan 240 ribu hektare itu tersebar di 18 provinsi dan akan terus diperluas hingga mencapai target 1 juta hektare.

Kementerian Pertanian (Kementan) Siap Koordinasi dengan Kementerian ATR/BPN

Mengenai penanaman bahan baku etanol, Kementerian Pertanian (Kementan) menunggu koordinasi bersama dengan Kementerian ATR/BPR.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman juga mengatakan bahwa selain untuk kebutuhan campuran BBM, penembangan tebu dalam program itu juga untuk memenuhi kebutuhan gula dalam negeri.

“Untuk konsumsi, untuk white sugar, Insya Allah mudah-mudahan tahun ini, paling lambat tahun depan swasembada, white sugar,” kata Mentan Amran kepada wartawan di kompleks gedung Menko Pangan, Jakarta Pusat pada 21 Oktober 2025 lalu.

“Kemudian untuk total secara keseluruhan (konsumsi dan etanol) mudah-mudahan 3-4 tahun ke depan selesai,” tambahnya.

Rencana Etanol untuk Kurangi Impor BBM

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan bahwa saat ini, konsumsi bensin mencapai 42 juta ton per tahun dengan impor kurang lebih 22 hingga 23 juta ton.

Untuk bisa mengurangi jumlah impor bensin, Bahlil mengungkapkan bahwa dengan campuran etanol 10 hingga 20 persen atau E10 dan E20 bisa menjadi solusi.

“Etanol ini bahan bakunya dari jagung, tebu, singkong dan ini tidak hanya sekadar untuk mempertahankan energi kita. Tapi juga menciptakan lapangan kerja dan instrumen pertumbuhan yang bisa kita lakukan di daerah-daerah,” kata Bahlil saat acara Sarasehan 100 Ekonom Indonesia di Jakarta pada Selasa, 28 Oktober 2025.

Dalam kesempatan itu, Bahlil membantah bahwa campuran etanol membuat kualitas bensin menurun.

“Jadi, sangat tidak benar kalau ada diskusi-diskusi oleh berbagai kelompok yang mengatakan bahwa etanol ini adalah barang yang tidak bagus,” terangnya.

Ketua Umum Partai Golkar ini kemudian menyebut beberapa negara yang sudah lebih dulu menggunakan etanol sebagai campurannya.

“India sudah pakai E30, Amerika sudah pakai E20, Thailand sudah E20, bahkan di beberapa negara di Amerika itu sudah E85. Jadi, kita itu jangan selalu berpikir sesuatu yang seolah-olah ada sesuatu gitu,” tandasnya.