Pengangguran Tertinggi di ASEAN Bayangi Anak Muda, Menkeu Tebar Janji: Akhir 2025 Cari Kerja Bakal Mudah
Bacaweb.com – Sebagian publik kini tengah ramai menyoroti pernyataan Menkeu, Purbaya Yudhi Sadewa tentang tanda-tanda pemulihan ekonomi RI yang dinilai mulai tampak di berbagai sektor.
Purbaya menguraikan, perekonomian Indonesia akan tumbuh lebih cepat pada akhir tahun 2025.
Menkeu RI itu menyoroti geliat ekonomi muncul dari meningkatnya aktivitas masyarakat, seperti lonjakan permintaan sambungan listrik baru di berbagai daerah.
“Ekonominya memang mulai bergeliat,” ujar Purbaya kepada awak media di Jakarta.
“Dirut PLN kemarin menyampaikan bahwa di banyak tempat orang sudah mulai minta sambungan listrik baru, itu artinya, aktivitas ekonomi mulai bergerak,” imbuhnya.
Purbaya menilai, manfaat dari pertumbuhan ekonomi biasanya lebih dulu dirasakan oleh kelas menengah.
Menkeu pengganti Sri Mulyani itu menyebut, warga kelas menengah memiliki daya beli, akses pembiayaan, serta kemampuan beradaptasi terhadap peluang yang muncul.
“Biasanya, ketika ekonomi tumbuh makin cepat, yang menikmati paling banyak itu kelas menengah duluan. Yang bawah lebih lama,” ungkap Purbaya.
Purbaya lantas menjelaskan, saat perusahaan mulai berekspansi, terutama di sektor teknologi informasi, permintaan tenaga kerja meningkat dan upah pekerja ikut naik.
Namun efek ini lebih cepat dirasakan oleh kelas menengah yang bekerja di sektor formal, bukan oleh anak muda yang baru mencari pekerjaan.
Angka Pengangguran Anak Muda RI
Berdasarkan data terkini dari Badan Pusat Statistik (BPS), menunjukkan tingkat pengangguran terbuka usia muda mencapai 16,16 persen pada Februari 2025.
Artinya, dari 100 orang berusia 15 hingga 24 tahun yang aktif di pasar kerja, sekitar 16 orang di antaranya masih menganggur.
Di sisi lain, terdapat angka pengangguran generasi muda atau Gen Z masih menjadi bayang panjang yang belum terurai.
Terlebih, di saat Menkeu Purbaya mengaku tengah menyiapkan berbagai stimulus untuk menumbuhkan perekonomian hingga 5,5 persen pada kuartal IV pada 2025, anak muda justru masih bergelut dengan fakta, lebih dari 15 persen dari mereka belum memiliki pekerjaan.
Kondisi ini memperlihatkan jurang antara proyeksi optimistis kebijakan makro dan realitas di lapangan.
Gen Z Masih Terjebak di Lingkar Pengangguran
Dalam kesempatan berbeda, anggota Aliansi Ekonom Indonesia, Vivi Alatas pernah menjelaskan tingkat pengangguran muda selama hampir satu dekade terakhir tidak banyak berubah.
“Pengangguran usia 15 sampai dengan 24 tahun, selama 2016 sampai dengan 2024 selalu di atas 15 persen,” ujarnya dalam jumpa pers di Jakarta, pada Selasa, 10 September 2025.
Vivi menambahkan, lebih dari 25 persen anak muda Indonesia tidak produktif karena tidak bekerja, tidak sekolah, dan tidak mengikuti pelatihan.
Kondisi ini disebut sebagai fenomena yang menghambat bonus demografi dan memperlebar kesenjangan sosial.
Berdasarkan data Sakernas 2018 hingga 2024, 80 persen lapangan kerja baru berasal dari sektor berbasis rumah tangga dengan upah rendah dan tanpa jaminan sosial.
Titel Pengangguran RI Tertinggi di ASEAN
Data Trading Economics pada Kamis, 14 Agustus 2025 sempat mencatat tingkat pengangguran Indonesia berada di angka 4,76 persen untuk periode Maret 2025.
Jumlah itu setara dengan lebih dari 7 juta orang yang tidak memiliki pekerjaan.
Meski turun tipis dari tahun sebelumnya, posisi Indonesia masih menjadi yang tertinggi di kawasan Asia Tenggara atau ASEAN terkait angka pengangguran tersebut.
Hingga kini, fakta tersebut menegaskan adanya janji pemulihan ekonomi yang tergolong belum sepenuhnya menjangkau generasi muda yang terus berjuang mencari tempat di dunia kerja.***




