Luhut: Nasib Ekonomi Indonesia Bergantung pada “Mazhab” Menkeu Purbaya
BacaWeb.com – Jakarta, Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan menegaskan bahwa arah dan masa depan ekonomi Indonesia akan sangat ditentukan oleh pendekatan kebijakan yang dijalankan oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Ia menyebut kebijakan fiskal dan moneter yang diterapkan Kementerian Keuangan akan menjadi faktor kunci di tengah situasi ekonomi global yang penuh tantangan.
“Nasib ekonomi RI ke depan akan sangat bergantung pada mazhab Menteri Keuangan,” kata Luhut dalam forum “1 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran: Optimism on 8% Economic Growth” di Jakarta.
Menurut Luhut, Purbaya dikenal sebagai tokoh yang berpandangan pro-pasar dan percaya bahwa kelancaran peredaran uang di masyarakat adalah dasar pertumbuhan ekonomi yang kuat. Ia menilai langkah Kementerian Keuangan yang menempatkan saldo anggaran lebih (SAL) senilai Rp200 triliun pada lima bank BUMN menunjukkan komitmen untuk menjaga likuiditas pasar.
Luhut mengaku sudah lama mengenal Purbaya, bahkan sejak keduanya masih bekerja di Kantor Staf Presiden (KSP). Ia menilai gaya kepemimpinan Purbaya lebih realistis dan berorientasi pada kebutuhan pasar, bukan semata-mata pada teori ekonomi atau prosedur birokrasi. “Kita butuh orang yang bisa memastikan uang berputar di masyarakat, bukan hanya mengendap di sistem,” ujarnya.
Meski optimistis, Luhut menyadari masih banyak tantangan yang harus dihadapi di tahun pertama pemerintahan. Ia berharap kebijakan Purbaya bisa mendorong pertumbuhan ekonomi nasional tetap stabil di kisaran 5,1–5,2 persen, meski tekanan global dan fluktuasi harga komoditas masih tinggi.
Sejumlah pengamat ekonomi menilai pernyataan Luhut menunjukkan kepercayaan besar terhadap arah kebijakan fiskal baru yang diusung pemerintah. Namun mereka juga mengingatkan agar strategi ekonomi tidak bergantung pada satu figur saja, melainkan harus didukung oleh sistem dan koordinasi lintas lembaga yang solid.
Publik kini menanti langkah konkret dari Kementerian Keuangan untuk menjaga keseimbangan antara kebijakan pasar dan stabilitas ekonomi nasional. Jika “mazhab” Menkeu Purbaya mampu berjalan seimbang, harapan untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi Indonesia di bawah pemerintahan baru akan semakin besar.(*)




