Uji Coba Bansos Digital di Banyuwangi Jadi Tolok Ukur Peluncuran Nasional Tahun Depan
Bacaweb.com – Pemerintah menargetkan program Bantuan Sosial (Bansos) Digital diluncurkan secara nasional pada Mei 2026.
Kendati demikian, keputusan peluncuran masih menunggu hasil evaluasi uji coba yang telah dilakukan di Kabupaten Banyuwangi sejak September lalu.
Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, pemerintah tidak ingin terburu-buru memperluas penerapan sebelum memastikan sistem digitalisasi bansos benar-benar siap dan berjalan efektif.
“Saya rapat dulu minggu depan, tanggal 18, mendengarkan evaluasi dari hasil uji coba di Banyuwangi. Kita harus betul-betul melakukan studi yang baik. Nanti saya dengarkan laporannya,” ujar Luhut.
Uji Coba di Banyuwangi Libatkan 300 Ribu Peserta
Menurut Luhut, uji coba program bansos digital di Banyuwangi telah menjangkau sekitar 255-300 ribu peserta.
Dari pelaksanaan tersebut, pemerintah masih menemukan sejumlah kekurangan di lapangan, namun dinilai masih dapat diatasi.
“Pelaksanaan kemarin hampir 300 ribu peserta. Laporan sementara yang saya terima, memang ada kekurangan di sana-sini, tapi masih bisa kita kelola,” jelasnya.
Luhut menambahkan, keputusan lanjutan mengenai apakah perlu dilakukan uji coba tambahan di beberapa kabupaten lain, atau langsung diperluas ke tingkat provinsi, akan diputuskan dalam rapat evaluasi mendatang.
Jika hasil evaluasi menunjukkan hasil positif, peluncuran nasional akan dilakukan bersama Presiden Prabowo Subianto dan Bank Dunia (World Bank).
“Saya usul presiden untuk (peluncuran) bulan Maret, April, atau Mei. Kita akan launching secara nasional bersama bapak presiden dan World Bank. Itu akan membawa reputasi Indonesia semakin baik,” ungkap Luhut.
Digarap Anak Muda, Tanpa Dana Asing
Luhut juga menegaskan bahwa seluruh sistem digitalisasi bansos ini sepenuhnya dikembangkan oleh anak muda Indonesia, tanpa pendanaan dari luar negeri.
Teknologi tersebut bahkan melibatkan kolaborasi dari berbagai universitas ternama di Tanah Air, seperti ITB, UI, dan UGM.
“Semua buatan dalam negeri. Sampai hari ini kita belum keluar uang. Kita menggunakan apa yang ada di dalam negeri. Ada (pengembang sistem) namanya Tubagus, Andika, anak-anak muda yang mengerjakan,” papar Luhut.
Ketua DEN itu menyebut bahwa inovasi ini diharapkan menjadi tonggak transformasi digital di sektor bantuan sosial sekaligus memperkuat kemandirian teknologi nasional.
Terintegrasi Penuh dalam 2-3 Tahun
Luhut optimistis bahwa sistem pembayaran dan identifikasi digital akan terintegrasi secara penuh dalam dua hingga tiga tahun ke depan.
Dengan demikian, seluruh data penerima bansos akan terhubung langsung dengan Identitas Kependudukan Digital (IKD) dan sistem verifikasi biometrik.
“Saat masa jabatan pertama presiden hampir selesai, saya kira ini sudah akan berjalan penuh,” kata Luhut.
Sebagai informasi, dalam uji coba di Banyuwangi, penerima manfaat yang tidak memiliki ponsel dibantu oleh 167 Pendamping Keluarga Harapan (PKH) dan 25 Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK).
Mereka membantu proses registrasi di Desa Kemiren dan Kelurahan Lateng agar tidak ada warga yang tertinggal dalam proses digitalisasi bantuan sosial.***




